KesimpulanPertanyaan yang Sering Muncul di Sidang Skripsi dan Seminar Proposal. 6 pertanyaan di atas cuma segelintir contoh, ya. Masih banyak pertanyaan yang umumnya muncul dalam sidang skripsi. Agar gambaranmu tentang pertanyaan yang muncul di sidang skripsi bertambah, jangan sungkan bertanya kepada mahasiswa lain yang terlebih 1 Dalam Kitab Ramayana, bhakti sejati adalah sujud, memuja, hormat setia, taat, memperhambakan diri dan kasih sayang, sebenarnya, tekun, sungguh-sungguh berdasarkan rasa, cinta, dan kasih yang mendalam memuja Ida Sang Hyang Widhi atau yang dipujanya. Bhakti sejati adalah pemujaan yang dilakukan seseorang kepada yang dipujanya dengan sungguh Beberapacerita dikemas dengan sangat menarik karena memasukkan unsur ketegangan di dalamnya. Kalau kamu tertarik menontonnya, berikut ini Popbela sudah siapkan 17 rekomendasi film Barat tentang perselingkuhan. 1. Body Heat (1981) Disutradarai oleh Lawrence Kasdan, Body Heat merupakan film tentang perselingkuhan yang mendapat rating cukup Inimungkin tampak sederhana tetapi Anda akan terkejut untuk memperhatikan bahwa tidak ada dalam cerita ini seperti yang terlihat. Jorge Luis Borges, penulis cerita pendek Argentina yang tampil sebagai nomor 1 dalam daftar ini, menganggap Pedro Páramo sebagai teks terbesar yang pernah ditulis dalam bahasa apa pun. Yangsaya alami lebih buruk, saya seorang lelaki yang menginginkan kebahagiaan di atas nama kesetiaan tapi nyatanya saya sampai saat ini belum juga menemukan arti dari kesetiaan . Ada seorang kawan pernah berkata kepada saya "gak ada yang namanya kesetiaan, seorang manusia terkadang lupa dengan apa yang di ucapkannya". Selalumenyenangkan ketika berbicara tentang cinta dan teman hidup. Media dunia seolah memiliki cerita yang tak ada habisnya untuk membicarakan topik Cinta dan Kesetiaan: Sebuah Kebodohan Adamomen ketika tiba-tiba kita tidak sadar semua yang ada di lingkungan ini, dan seolah terserap dalam kesenangan kita atau imajinasi atau cerita kita, saking fokusnya. Saat awal memulai tulisan, rasanya sulit sekali untuk fokus dan sulit sekali mendapatkan tempo yang membawa kita bisa lancar dalam menulis. Bagiandari kitab ini merupakan kisah sedih yang berisi keluhan yang terus menerus terhadap Allah dan mengenai hukuman yang kemudian dijatuhkan. Lagi-lagi ini merupakan peringatan bagi mereka yang kurang percaya. 3. Kegagalan dan kemenangan. Bil . Dalam bagian ketiga kitab itu kita membaca hal-hal yang menggembirakan. initentang kita bukan tentang kalian dan ini aku yang tak pernah bisa menjadi dia. miris ketika tersadar bahwa logika ternyata tak mampu temukan jalan, ketika hati yg mungkin telah letih bersandar. hati yang mencintai pun dengan anggun melangkah pergi dengan rasa Apayang kita temukan dalam kisah di atas? Kisah ini menggambarkan bagaimana seseorang yang sudah dewasa menurut usianya, ternyata tidak mampu menghadapi masalahnya secara dewasa. Tonya Harding, misalnya, ha-rus menghadapi Nancy Kerrigan, lawannya yang tangguh dalam pertandingan sepatu es. Ia khawatir tidak bisa memenangkan pertandingan itu CEol99S. Selain rasa cinta, kesetiaan dan komitmen juga menjadi salah satu hal penting dalam hubungan. Setuju, kan?Dalam artikel ini, IDN Times telah merangkum 20 quotes bijak tentang pentingnya menjaga kesetiaan. Semoga bisa menghangatkan Kesetiaan itu bicara soal komitmen. Apakah kamu dan pasanganmu siap mengikat janji untuk terus bersama?ilustrasi pasangan bahagia ayudiahdy "Setia itu ketika kamu temukan seseorang yang lebih baik, namun tetap memilih bersama dia yang telah kamu janjikan untuk bersamanya." "Hanya waktu yang menguji sebuah kesetiaan dan komitmen. Namun, komitmen adalah langkah awal untuk setia." "Kesetiaan adalah komitmen untuk terus bersama yang berasal dari hati yang saling mengasihi." "Tak ada yang kesetiaan tanpa komitmen. Tak ada komitmen tanpa kenyamanan." 2. Semua orang bisa bilang cinta, tapi belum tentu bisa setia. Karena kesetiaan itu langka, jangan permainkan hati orang yang tulus denganmuilustrasi pasangan bahagia luis-zambrano-3782493 "Mencari kesetiaan itu seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami." "Kesetiaan itu seperti angin. Kamu tidak bisa mencarinya, tapi kamu bisa merasakannya!" "Dalam hubungan, butuh dua orang yang berjuang. Berlomba mengabaikan bosan, lalu mempertahankan kesetiaan." "Kebaikan dan kesetiaan adalah dua hal yang berbeda. Oleh sebab itu kita harus memiliki keduanya, jangan hanya salah satu." 3. Orang yang setia pasti punya perasaan yang tulus. Pancaran hatinya membuat mereka selalu terlihat bersinar!ilustrasi pasangan bahagia diana-onfilm "Satu-satunya perkara yang masih bernilai di dunia ini adalah kesetiaan." "Orang hebat bukan dia yang memiliki banyak cinta, tapi dia yang bisa menolak kehadiran cinta lain demi pertahankan satu cinta." "Kesetiaan berarti ketulusan untuk menyimpan satu nama tetap di hati, kemudian berjanji untuk tidak mengkhianati." "Belajarlah dari sebuah kesetiaan, karena kesetiaan itu mengajarkan kita arti pentingnya suatu kejujuran, ketulusan, dan kepercayaan." Baca Juga 20 Quotes Bijak Ditinggal Nikah Mantan Pacar, Yuk Belajar Ikhlas! 4. Kamu gak perlu sibuk mencari orang yang setia denganmu. Karena mereka yang setia pasti akan selalu berada di sampingmuilustrasi pasangan bahagia tr-n-long-3093985 "Kesetiaan itu tidak perlu dicari. Dia akan kamu dapatkan ketika kamu mencintai dan menyayangi dengan tulus." "Kesetiaan itu bukan saja tentang seberapa lama mampu bertahan, tetapi juga seberapa tulus memiliki dengan segala kekurangan yang ada." "Kesetiaan itu bukan diukur dari banyaknya waktu untuk bersamanya, tapi kemampuan kamu menjaga hati ketika sedang tak di sisinya." "Ketika cinta dipisahkan oleh jarak, maka saat itulah seseorang diajarkan tentang arti ketulusan dan kesetiaan yang sebenarnya." 5. Kesetiaan adalah dasar dari sebuah hubungan. Semoga kamu dan partner berbahagia selalu!ilustrasi pasangan bahagia ku3weddinghouse "Kesetiaan adalah penjaga hati agar tidak retak, dan yang akan membuat cintamu terus mekar dan berkembang di sela-sela taman kehidupan." "Kesetiaan merupakan dasar pembangun kesetiaan pada belahan jiwamu. Jika dia tidak setia, dia bukan belahan jiwa." "Kesetiaan adalah pengawal kerajaan cinta. Setialah. Maka cintamu akan suci dan murni." "Jika engkau sudah memperbaiki diri, melembutkan sikap, dan setia hanya kepadanya, tapi dia tetap tidak setia kepadamu, maka dia bukan milikmu dan engkau milik seseorang yang lebih baik." Itu dia 20 quotes tentang pentingnya menjaga kesetiaan. Kata-katanya indah nan menggetarkan hati, kan? Baca Juga 20 Quotes Tentang Sahabat Jadi Cinta, Bikin Hati Baper! Uploaded byAnitto 0% found this document useful 0 votes1K views16 pagesOriginal TitleBAB 6Copyright© © All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?Is this content inappropriate?Report this Document0% found this document useful 0 votes1K views16 pagesBab 6Original TitleBAB 6Uploaded byAnitto Full descriptionJump to Page You are on page 1of 16Search inside document You're Reading a Free Preview Pages 6 to 14 are not shown in this preview. Buy the Full Version Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime. KESETIAAN, katamu, adalah ketabahan menunggu. Dan itulah yang kulakukan. Di sini, bangku yang kududuki telah berlumut, daun-daun berguguran, kering, mati, dan tumbuh kembali. Pepohonan yang ada di seberangku, dulu, masihlah seukuran anak kecil. Kini tinggi memancang dengan dahan-dahan dan akar yang semakin lebar dan kekar. Jalanan berbatu itu sudah licin beraspal. Rawa-rawa dengan sebuah sungai kecil di tengahnya telah mewujud rumah-rumah yang saban tahun kebanjiran. Rumah pohon yang sempat kau buat untukku, sudah lama dirobohkan. Sebuah menara satelit datang menggantikan. Selebihnya kuyakin masih banyak hal-hal telah berubah. Namun, sejauh mataku memandang, hanya itulah yang dapat kulihat. Tidak seperti hal-hal di sekelilingku, aku sama sekali tidak berubah. Pakaian yang kukenakan masih sama. Kaus putih polos lengan pendek dengan cardigan biru laut membalutnya. Rok sepan hitam yang kukenakan pun masih selutut, tidak berkurang atau bertambah panjang sesenti pun. Payung ungu bermotif bunga-bunga yang kau hadiahkan pada hari ulang tahunku ke-20 juga masih bersandar di tepi kursi dalam keadaan setengah mengembang. Mirip bunga yang kuncup. Telapak tangan kananku pun tetap mengatup. Menggenggam sesuatu yang kau titipkan. "Jaga bunga ini sampai aku kembali," katamu. Sebelum kau membalikkan badan lalu belum kembali hingga kini. Tapi aku percaya kau akan kembali. Detik-detik kulalui dengan kesabaran yang kian subur. Aku tidak beranjak sedikit pun. Boleh dibilang tubuhku nyaris tidak bergerak. Kecuali bola mata dan cuping telingaku yang terkadang berdenyut. Sekadar memastikan apakah sosokmu telah muncul atau suaramu telah timbul. Aku tidak pernah menghitung waktu sehingga aku tak tahu telah berapa lama aku menunggu. Kupikir diriku masih semuda dan secantik dulu. Gadis berambut sebahu berusia 22 tahun yang ceria dan suka mengumbar senyum kepada siapa saja. Namun, aku salah. Sekelompok anak-anak berseragam putih-merah pernah lewat di hadapanku. Kemudian mereka saling berbisik satu sama lain. Bisikan yang masih mampu kudengar. Berkat kebiasaan menanti suaramu, kemampuan pendengaranku hampir menyerupai burung merpati. Mampu menangkap bunyi infrasonik. "Hei, nenek keriput itu kenapa diam saja, ya?" "Kata ibuku, nenek itu sudah berdiam di tempat duduk itu sejak ibuku masih remaja." "Aneh sekali. Tapi aku lihat matanya kadang-kadang mengedip. Ia pasti bukan patung." "Sebenarnya ia sedang menunggu siapa ya?" "Yang jelas bukan menunggu Pak Guru Doni. Meskipun Pak Guru Doni suka terlambat masuk kelas, tapi ia tidak pernah membuat para siswa menunggu hingga bertahun-tahun." Sungguh, aku ingin memeriksa apakah wajahku telah setua itu hingga bocah tersebut menyebutku nenek keriput. Tapi seluruh persendianku kaku. Kelu. Seolah-olah ada lem mahalekat yang menempel di antara pantatku dan permukaan bangku. Aku menyimpan cermin saku di dalam tas tangan yang teronggok di sebelahku. Ingin rasanya kuambil cermin itu agar aku tahu kondisi parasku. Tapi kaku sekali, berat sekali. Aku hanya bisa menggerakkan mata dan telingaku. Itu pun hanya bisa kulakukan sangat perlahan. Aku percaya kau akan kembali. Dan ketika waktu itu tiba kuyakin tubuhku akan kembali berfungsi normal. "Kau pasti lapar, kan? Dari tadi kita berjalan kaki. Namun, tak menemukan lapak penjual makanan. Aku akan membeli makanan dulu sebentar. Kurasa di sebelah sana ada rumah makan. Aku akan membeli dua bungkus. Kau lebih suka ayam goreng atau pecel lele?" "Aku suka dua-duanya." "Ayam goreng atau pecel lele?" "Ayam goreng saja, deh." Setelah tuntas kujawab pertanyaanmu, kau menguncupkan payung. Meletakkannya di tepi kursi. Kau tampak melihat-lihat langit. Barangkali menakar hari akan tetap cerah atau hujan turun lagi seperti tadi. Kau memutuskan pergi. Berbelok kiri, lalu lenyap ditelan tikungan. Kau tahu, selama aku menunggumu di sini, pikiranku sering bercabang-cabang, merambati ingatan demi ingatan. Terlebih jika hari telah gelap, dingin, dan pekat dengan keheningan. Kepalaku terlempar menggelinding ke jurang-jurang waktu yang telah jadi silam. Aku teringat masa kecilku yang sekelam malam. Aku teringat ayah yang pergi entah ke mana meninggalkan aku dan ibu setelah ia puas menampar dan memukul punggung ibu dengan tongkat baseball. Aku teringat ibu yang sakit-sakitan dan meninggal dunia tak lama sesudahnya. Begitu pula aku teringatmu. Bagaimana kau datang ke dalam hidupku seperti matahari pagi. Menyinariku yang sedang muram-muramnya. Kau tidak hanya membawa lilin atau lampu, kau membawa matahari untukku. Masih kuingat betul peristiwa di kelab malam itu. Waktu itu ibuku baru wafat dan aku masih mahasiswa semester awal yang labil. Kesadaranku hilang dan tubuhku sempoyongan karena menenggak berbotol-botol minuman. Seorang lelaki mabuk hampir memerkosaku. Lalu, kau, mahasiswa semester akhir yang sedang meneliti kehidupan di kelab malam, datang menyelamatkanku. Kau lepaskan aku dari cengkeraman lelaki teler berbau amis itu. Kau bawa tubuhku ke rumah teman perempuanmu yang terletak tak jauh dari situ. Begitu aku sadar, ribuan terima kasih kuucapkan padamu. Kemudian kau memintaku berjanji. Oh tidak, bukan meminta. Kau tidak pernah menuntutku apa-apa. Kau hanya menyampaikan harap. "Sebaiknya kamu tidak perlu ke tempat-tempat semacam itu lagi, Dina." Memang aku tidak pernah lagi berkunjung ke tempat-tempat semacam itu. Apalagi setelah aku resmi menjadi kekasihmu. Kau selalu ada buatku. Paling tidak, kau selalu berusaha untuk itu. Sejak itu, aku merasa menemukan bahu tempat bersandar yang telah lama hilang. "Maukah kamu berjanji untuk selalu setia sama aku, Hendi?" ucapku suatu hari. Suatu hari ketika aku betul-betul merasakan tak ingin kehilanganmu. Kau tidak menjawab 'ya' atau 'tidak'. Kau hanya mengatakan "Kesetiaan adalah ketabahan menunggu." Sebetulnya aku berharap jawaban yang lebih dari itu. Namun, pandangan matamu yang sejernih mata kanak-kanak sudah cukup untuk membuat hatiku luluh. Kadang aku heran pada diriku sendiri. Mengapa mau-maunya aku menantikanmu dalam jangka waktu yang tak masuk akal-setidaknya begitulah kata orang-orang yang mengenalku-ketika mereka melewatiku, sambil menggeleng-geleng prihatin. Mengapa aku tetap saja merasa yakin kau akan kembali. Mengapa aku kerap mengarang-ngarang permakluman sendiri, yang lebih sering adalah imajinasi-aku membayangkan rumah makan itu jauh sekali, di luar benua, atau bahkan di luar planet yang aku dan kau tempati, dan kau rela menempuh perjalanan sejauh itu, demi diriku. Kupikir, jika kau rela berkorban bepergian sejauh itu demi aku, kenapa aku mesti tak rela menunggu kedatanganmu selama ini. Bukankah sebagai sepasang kekasih, sudah selayaknya kita saling menerima dan memberi. Waktu demi waktu berlalu. Malam demi malam melintasiku. Dan masih tanpa kau. Tengah malam ini dingin sekali. Sekujur tubuhku seperti ditempeli berbalok-balok es. Selain dingin, juga gelap dan senyap. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah bulan yang bulat penuh menyerupai martabak manis kesukaanmu. Hanya ada bebunyi derik serangga malam dan goyangan daun-daun. Telingaku pengar. Mataku nanar. Tapi tenang saja, bunga pemberianmu ini masih kugenggam dengan tegar. Oh ya, dulu, tak berapa lama setelah kau pergi dan aku menunggumu di sini, seorang lelaki yang telah jadi masa lalu pernah merayu dan membujukku. Ia ingin aku kembali menjadi kekasihnya. Ia bilang kau hanyalah lelaki berengsek, yang pandai membohongiku dan meninggalkanku begitu saja. Tapi aku tak percaya padanya. Aku lebih memercayaimu. Aku tahu dan aku yakin kau pasti kembali. Dan aku akan tetap menunggumu. Meski dalam kondisi sedingin, segelap, sesenyap, dan semengilukan ini. Kau pasti akan datang kembali, bukan? *** Pagi itu, daun-daun pepohonan di sepanjang jalan itu kompak berguguran. Jalanan penuh dengan serakan daun seolah musim gugur. Daun-daun itu basah. Padahal, tidak ada hujan dan tidak ada orang yang iseng menyirami daun-daun itu. Para warga bergotong-royong membersihkan serakan daun-daun tersebut. Kasak-kusuk bertebaran liar. "Mungkin saja daun-daun itu menangis." "Ah, ada-ada saja, mana ada daun menangis." "Lihat, lihat, ada mayat!" "Ini kan perempuan tua yang suka duduk di kursi usang itu." *** Orang-orang telah membubarkan diri dari kompleks permakaman. Seorang lelaki berpakaian lusuh dengan rambut awut-awutan dan muka kumal muncul dari balik pohon beringin di dekat gerbang permakaman. Ia menghampiri sebuah makam yang masih basah. "Dina, ini nasi lauk ayam goreng yang kau mau," katanya sambil meletakkan sebuah bungkusan di tepi nisan. * Bandung, Oktober 2018 Erwin Setia lahir pada 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media, seperti Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, dan Cendana News.